Inti Berita • Poin Kunci Redaksi
- Bank Sentral menerbitkan instrumen sekuritas valas tenor terukur untuk mempertebal cadangan devisa dan menahan capital outflow.
- Insentif pajak atas Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam diperluas hingga sektor manufaktur bernilai tambah tinggi.
- Target stabilitas Rupiah dijaga pada kisaran Rp15.400 - Rp15.650 per Dolar AS hingga penutupan kuartal kedua 2025.
Pemerintah bersama otoritas moneter resmi meluncurkan paket integrasi stabilitas moneter dan fiskal awal tahun ini sebagai benteng antisipasi terhadap pergeseran arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve serta tensi geopolitik global yang terus bereskalasi. Langkah preventif ini diambil guna memastikan likuiditas pasar modal domestik tetap bergairah sekaligus menjaga daya beli masyarakat di dalam negeri.
Dalam konferensi pers gabungan yang berlangsung di Jakarta, pimpinan otoritas moneter menegaskan bahwa fondasi makroekonomi Indonesia masih tergolong solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang bertahan di atas 5 persen pada kuartal penutup tahun lalu memberikan ruang manuver yang cukup leluasa untuk meracik bauran kebijakan (policy mix) yang adaptif namun tetap berdisiplin tinggi.
Tekanan eksternal yang dihadapi negara berkembang saat ini berpangkal pada ketidakpastian siklus pelonggaran likuiditas global. Dengan inflasi inti Amerika Serikat yang masih bertahan di atas target sasaran dua persen, pasar memperkirakan pelonggaran moneter akan berjalan jauh lebih lambat ketimbang ekspektasi awal kuartal sebelumnya.
Kondisi tersebut memicu penguatan indeks Dolar AS (DXY) secara periodik, yang berpotensi membebani mata uang negara mitra dagang utama kawasan Asia Tenggara. Kendati demikian, intervensi non-konvensional melalui operasi moneter pasar valuta terbukti efektif menjaga volatilitas harian Rupiah dalam rentang yang terprediksi.
Sebagai strategi pamungkas, Kementerian Keuangan memperluas cakupan Peraturan Pemerintah mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE). Mulai kuartal kedua, eksportir yang memarkirkan dana valuta asingnya di perbankan nasional selama minimal enam bulan akan menikmati fasilitas pembebasan pajak penghasilan bunga deposito berjenjang hingga nol persen.
Kombinasi antara suku bunga acuan domestik yang kompetitif dan insentif fiskal ini diharapkan mampu meningkatkan cadangan devisa hingga melampaui US$155 miliar pada semester kedua mendatang, sekaligus memperkuat pertahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal.
“Stabilitas nilai tukar bukan sekadar angka di papan bursa kurs, melainkan jangkar kepastian biaya produksi industri nasional dan keterjangkauan harga pangan bagi seluruh lapisan rakyat.”
Jurnalis investigasi ekonomi dengan pengalaman lebih dari 15 tahun meliput perbankan sentral, pasar uang, dan kebijakan fiskal Asia Pasifik.
Diskusi Pembaca (2)
Dimoderasi sesuai Pedoman KomunitasLangkah terpadu insentif DHE ini sangat ditunggu industri manufaktur agar beban kurs tidak mendongkrak biaya logistik.
Semoga stabilitas di bawah Rp15.500 bisa terjaga sampai akhir tahun agar daya beli kelas menengah pulih.